Yuk silahkan ditanya-tanya kak....
Maret 17, 2020 Menghidupkan Kembali Tenun Khas Tidore yang Punah Ratusan Tahun Silam

Menghidupkan Kembali Tenun Khas Tidore yang Punah Ratusan Tahun Silam

Ternate dan Tidore di Provinsi Maluku Utara bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah yang menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa. Dua daerah ini juga dikenal memiliki tenun khas yang sudah ada sejak kesultanan Tidore. Namun kain tenun itu punah karena ditinggalkan masyarakatnya selama ratusan lalu seiring dengan perkembangan zaman. Bukti-bukti sejarah kain tenun asal Tidore itu dapat dijumpai di arsip perpustakaan nasional dan di negeri Belanda. Temuan itu ternyata merupakan salah satu awal sekelompok masyarakat Kota Tidore menghidupkan kembali tenun yang punah itu.

Kegiatan menenun berawal ketika pimpinan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku Utara, Dwi Tugas Waluyo berkunjung ke Kesultanan Tidore sekitar 2017 lalu. Dwi yang ditemui Kompas.com, Sabtu (19/01/2019) menceritakan, di Kesultanan Tidore ia melihat wanita mengenakan kain tenun. Dari situ dia berpikir bahwa dulunya ada kerajinan menenun di Tidore. “Tak lama setelah itu, ada pameran KKI yang diselenggarakan BI, skalanya nasional, hampir semua daerah menampilkan kain tenun mereka. Di situ juga banyak desainer ternama yang hadir. Saya pun agak minder karena daerah lain produknya bagus sementara Maluku Utara minim, tidak tampilkan kain yang bagus, dan kalah jauh dengan yang lain,” kata Dwi. “Dari situ saya kepikiran saat kunjungan ke kesultanan Tidore, kalau ada kain berarti ada menenun,” kata Dwi lagi. Suatu saat, katanya dia bertemu dengan orang Tidore yang istrinya sedang mengembangkan usaha gerabah di Pulau Mare (sebuah pulau depan Tidore). “Istrinya itu bernama Anita Gatmir, dalam sebuah acara dia bersama istri sultan Tidore, kita mengobrol, ternyata kerinduan saya sama dengan orang kesultanan yaitu kita tidak punya produk tenun,” ujar Dwi. “Nah kebetulan saat itu saya punya tamu dari arsip nasional, dia sedang melakukan penelitian perpustakaan yang ada di Malut. Dia ngobrol kalau tidak salah di perpustakaan nasional ada motif tenun Tidore. Setelah dicari didapatkan di sana ada 4 motif, dan ternyata di Perpustakaan Tidore juga ada, dari situ ada semangat untuk kembangkan tenun,” ujar Dwi lagi.

Setelah itu, kata Dwi, dia mengirim beberapa pemuda Tidore ke Jepara, Jawa Tengah, untuk belajar tenun selama sebulan, mulai dari pewarnaan, desain, menenun dan sebagainya. Seluruh perlengkapan menenun dari Jepara pun dibeli dan diboyong ke Tidore. “Dari situ kita mulai produksi tapi masih dalam pemantauan pelatih yang dari Jepara,” kata Dwi. Untuk mengembangkan tenun, Dwi mengatakan tidak bisa dilakukan sendirian. Ia pun menjalin kerja sama dengan desainer kondang dari Citra Tenun Indonesia (CTI). Diapresiasi ibu negara Setelah bisa memproduksi kain tenun lokal sendiri, Dwi menuturkan dirinya sudah memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti pameran kedua yang digelar Bank Indonesia. “Waktu itu saya didatangi ibu Presiden (istri Jokowi, Iriana Joko Widodo), ibu Wapres (istri Jusuf Kalla), ibu Gubernur BI (istri gubernur BI), saya langsung jelaskan mengenai asal mula kain tenun Tidore dan sangat direspons dengan baik, karena di situ yang dilihat ada semangat ingin membangkitkan kembali,” kata Dwi.

“Bahkan ada 10 produk tenun yang dipilih untuk dipakai gubernur BI, salah satunya tenun Tidore. Di luar dugaan, ternyata banyak sekali desainer Jakarta tertarik untuk bantu kembangkan tenun Tidore,” kata Dwi lagi. Kerja sama dengan CTI masih berlanjut. Pada akhir 2018 lalu, ada tiga pelatih yang didatangkan ke Tidore untuk melatih menenun. Namun itu baru awal, karena pada Februari dan April 2019 nanti ada lagi lanjutan dan puncaknya pada Mei 2019, akan diadakan fashion show di Jakarta. Kegiatan menenun, kata Dwi, saat ini dikerjakan di salah satu rumah warga di Kelurahan Soa Sio Kota Tidore. Saat ini sedang dibangun rumah tenun berlantai dua yang berlokasi di samping Kesultanan Tidore. Rencananya, pada akhir Januari ini, pembangunan rumah tenun akan rampung. Filosofi motif tenun Dwi menambahkan, semua kain tenun motif Tidore memiliki filosofi yang tinggi dan sulit diterjemahkan. “Akhirnya Ibu Anita ketemu ahli tenun Amerika dan bisa mengartikan setiap motif,” kata Dwi. Adapun beberapa motif itu di antaranya motif Marasante atau keberanian yang bercerita tentang sifat masyarakat Tidore yang kuat dan berani. Baca juga: Peragaan Busana ala Ibu Rumah Tangga untuk Gaungkan Tenun Tradisional Mamasa Kemudian motif Jodati atau ketulusan hati yang memiliki makna bahwa masyarakat Tidore tidak memiliki rasa egoisme. Kemudian ada motif Barakati yang melambangkan bahwa Sultan Tidore menaungi masyarakatnya pada semua aspek kehidupan. Sementara itu, ketua kelompok pemuda Yayasan Ngofa Tidore, Bams Konoras ketika ditemui di tempat menenun di RT 01, RW 01, Kelurahan Soa Sio, Tidore, menceritakan, keinginannya bersama beberapa rekan-rekannya untuk menenun karena keterpanggilan hati dan kesadaran terhadap budaya Tidore. “Banyak yang bertanya bahwa kegiatan ini sudah ketinggalan dan tidak menghasilkan uang, tapi itu kami tidak hiraukan, karena itu tadi, semuanya ini karena tanggung jawab dan kesadaran kami akan budaya sendiri,” ujarnya. “Karena saya dulunya sempat bertanya ke orangtua saya bahwa orang Tidore itu menutup aurat dengan apa, terus katanya ada yaitu Potadino tapi ratusan tahun lalu dan sekarang tidak ada. Akhirnya tak disangka-sangka kami dipertemukan dengan orang BI, yaitu Pak Dwi,” kata Bams lagi.

Kegiatan menenun saat ini hanya dikerjakan sekitar 20 orang yang masuk ke kelompok Bams. Dengan keterbatasan sumber daya manusia, dalam sebulan mereka hanya bisa menyelesaikan sekitar 10 hingga 15 kain tenun. “Untuk kain yang berukuran besar yaitu 2 meter kali 20 centimeter bisa memakan waktu hingga 3 hari,” ujarnya. Sementara bahan baku sendiri semuanya masih impor dari India. “Tapi ke depan kita berharap dapat membuat bahan baku sendiri dari pelepah pisang dan nanas,” kata Bams.

Kain tenun yang diproduksi saat ini kebanyakan memiliki motif seperti yang ada pada arsip nasional dan Belanda. “Untuk satu kain tenun Tidore yang bermotif harganya berkisar Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta,” ujar Bams.

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan Balasan