Februari 11, 2020 Permasalahan Logistik dalam E-Commerce

Permasalahan Logistik dalam E-Commerce

Situs e-commerce yang saat ini banyak tersedia semakin memudahkan masyarakat untuk mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan tanpa perlu mengunjungi tempat penjualan barang atau jasa tersebut. Konsumen cukup dengan sekali “klik” pilih barang, memasukkan dalam keranjang belanja, kemudian memilih metode pembayaran dan pengiriman, maka barang yang dipesan langsung diproses pengirimannya ke tempat tujuan. Hal ini sangat mudah dan praktis, serta menghemat waktu dan tenaga.

Pada kenyataaanya, banyak sekali masalah dan kendala yang sering terjadi dalam proses e-commerce. Masalah apa sajakah yang biasanya terjadi? Bagaimana apabila pembayaran tidak terverifikasi? Bagaimana jika barang yang dipesan rusak atau barang tidak sampai ke tangan konsumen? Bagaimana jika masalahnya pada proses distribusi barang ke konsumen? Bagaimanakah cara menanganinya? Kemudian, langkah apakah yang harus dilakukan agar konsumen tetap merasa nyaman menggunakan situs e-commerce?

Salah satu tantangan dalam bisnis e-commerce adalah bagaimana mengirimkan produk ke konsumen dengan tepat waktu, tanpa cacat secara efektif dan efisien. Seringkali logistik menjadi pain point dalam dunia bisnis e-commerce. Terutama di saat-saat khusus seperti annual campaign ataupun promotion, dimana volume belanja online berada di titik tertinggi, pemenuhan pesanan konsumen secara efektif dan efisien merupakan tantangan yang harus dipenuhi pelaku e-commerce sebagai keseluruhan dari pengalaman belanja konsumen.

Logistik lebih dari sekedar pengiriman barang kepada konsumen. Istilah logistik mencakup aspek yang jauh lebih luas seperti pergudangan, manajemen inventori, penagihan, pengemasan, label, pengiriman, cash on delivery, pembayaran, dan masih banyak lagi.

Tantangan dalam sisi logistik bervariasi mulai dari bagaimana memastikan produk sesuai dengan keinginan konsumen dengan tepat waktu, meminimalisir hingga menghilangkan kemungkinan cacat produk, hingga penyediaan reverse logistic. Reverse logistic dibutuhkan ketika konsumen meminta pengembalian produk karena rusak ataupun apabila mereka ingin melakukan penukaran tipe, ukuran, warna produk, dan hal-hal lainnya.

Menurut Zaroni (2017), umumnya kegiatan inti dari logistik e-commerce mencakup:

  • Processing, meliputi aktivitas sortir dan crossdocking kiriman.
  • Transporting, meliputi transportasi kiriman baik transportasi dari dan antar processing center sebagai hub, dan dari processing center ke delivery center sebagai spoke.
  • Delivery, meliputi aktivitas pengantaran barang ke alamat tujuan penerima.
    Untuk dapat meningkatkan kinerja tersebut, perusahaan e-commerce perlu menerapkan supply chain management karena Inti dari logistik adalah transportasi dan pergudangan, untuk melakukan movement barang atau kiriman dari satu titik asal ke titik tujuan dan kunci keberhasilan aktivitas logistik adalah: quality, cost, dan time.

Logistik yang baik sangat diperlukan dalam bisnis baik offline maupun online. Manajemen logistik dalam eCommerce juga sangat diperlukan. Pelaku ecommerce di sini selaku penjual harus paham tentang jumlah dan jenis barang apa yang tersisa di gudang, sehingga bisa memberikan yang terbaik untuk pelanggan. Jangan sampai info yang disajikan pada situs ternyata tidak sesuai dengan kondisi barang yang ada di gudang. Pastinya ini bisa menurunkan reputasi pagi penjual. Oleh sebab itu, Perusahaan pelaku eCommerce harus menerapkan strategi supply chain sebagai berikut :

Proses retur barang yang mudah
Karena belanja dilakukan secara online, ada kalanya barang yang diterima konsumen tidak seperti ekspektasi mereka sehingga mereka pun ingin mengembalikannya. Sebagai penyedia layanan e-Commerce yang baik, pastikan proses pengembalian barang tidak berbelit-belit. Proses yang cepat selain membuat konsumen senang, juga memudahkan penjual dalam mengatur persediaan barang.

Implementasikan software supply chain
Anda juga harus memanfaatkan perkembangan teknologi dalam mengatur supply chain untuk eCommerce Anda. Gunakan software khusus untuk membantu Anda mengelola inventory, memproses order, melihat status supplier, dan masih banyak lagi. Dengan software, penjual bisa tahu status logistiknya. Saat ini, ada banyak pelaku e-commerce yang menggunakan software khusus untuk mengatur supply chain mereka.

Persiapkan solusi alternatif
Alternatif solusi yang lain diperlukan ketika hal yang perkirakan tidak berjalan semestinya. Misalnya menjual barang yang didatangkan dari luar negeri. Agar lebih aman, cari lebih dari satu supplier yang menyediakan barang sama. Hal ini diperlukan ketika ada konsumen yang membeli suatu barang, namun barang habis atau tak kunjung sampai, penjual harus menghadapi keluhan konsumen. Oleh sebab itu, agar penjual tidak kehilangan konsumen, pastikan memiliki lebih dari satu supplier yang bekerja sama.

Estimasikan produk yang tepat
Sebaiknya penjual tidak melakukan stok barang lebih banyak dari yang dibutuhkan. Semakin banyak barang yang disimpan di gudang sedangkan barang tersebut tidak begitu diminati konsumen, justru akan membuat penjual rugi. Pertimbangkan dengan cermat berapa barang yang diperlukan.

Tetap up-to-date
Jangan sampai penjual salah menyediakan info mengenai barang yang ada di gudang Anda. Contohnya, penjual memajang barang A dengan harga diskon tertentu sehingga menyebabkan konsumen tertarik dan melakukan pembelian. Ternyata stok-nya sudah habis. Jangan mengecewakan konsumen dengan hal ini. sebaiknya tetap update dengan barang apa saja yang Anda miliki.

Jika e-commerce yang Anda jalankan cukup besar, sebaiknya Anda memakai tenaga khusus untuk mengatur proses pengaturan inventory, shipping dan pengembalian agar tidak bermasalah. Supply chain management yang baik akan bisa mendukung kelancaran kegiatan bisnis  ecommerce Anda.

Sumber : Gita Anggaranie
Junior Consultant | Supply Chain Indonesia

Tinggalkan Balasan

Dapatkan Diskon Rp100.000!  Cukup dengan masukkan kode kupon : ATOMEAJA