April 17, 2022 Misteri di Balik Keindahan Telaga Kabau Maluku Utara

Misteri di Balik Keindahan Telaga Kabau Maluku Utara

Salah satu spot Instagramable di Telaga Kabau (foto: rudiyanto Sapsuha)

Tahukah kamu di Maluku Utara, ada satu tempat yang indah tapi hingga kini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Destinasi ini bernama Telaga Kabau.

Kamu wajib tahu, kalau di tempat ini juga banyak menyimpan misteri. Salah satunya adalah keberadaan Telaga Tahaga Tau Fon, yang berjarak hanya 2 km dari Telaga Kabau.

Konon kabarnya hanya orang-orang tertentu, seperti ketua adat setempat, yang bisa melihat Telaga Tahaga Tau Fon.

Telaga Kabau (foto: Rudiyanto Sapsuha)

Telaga Kabau berada diantara dua desa di Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Yaitu  Desa Kabau Darat dan Desa Kabau Laut. Untuk itu, ditempat tersebut juga hadir jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut.

Destinasi Telaga Kabau menawarkan pesona hutan mangrove. Dengan latar belakang hamparan hijau hutan mangrove, kamu bisa mendapatkan spot Instagramable dari atas jembatan penyeberangan yang terbuat dari kayu.

Tempat indah ini sudah tentu sering dilalui warga Desa Kabau Darat dan Kabau Laut. Namun, hingga saat ini belum banyak wisawatan dari daerah lain yang berkunjung untuk melihat pesona Telaga Kabau.

Salah satu kendala, adalah lokasinya yang masih sulit dijangkau. Tapi jangan khawatir, saat ini Pemkab Kepulauan Sula tengah membangun akses jalan dari Desa Fokalit menuju Desa Kabau Darat.

Selain indah, Telaga Kabau juga menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat setempat.

Seorang penduduk asli Desa Kabau Laut, Safari Naipon menceritakan Telaga Kabau konon dulunya merupakan perkampungan yang ada di bagian Selatan Maluku Utara.

Perkampungan itu bernama Wai Bot yang berarti air putih. Desa itu kemudian berubah menjadi telaga seperti sekarang ini, setelah terjadi konflik antar-suku (soa).

Persoalan yang dihadapi adalah salah satu dari empat soa, mengusukan kepala desa dimpin oleh seorang perempuan.

Sementara adat masyarakat Desa Wai Bot, perempuan tidak bisa menjadi kepala desa karena akan mendatangkan bencana. Selain itu juga bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

Namun, mereka tetap bersikeras untuk menjadikan perempuan sebagai kepala desa, maka dari situ lah muncul berbagai macam masalah.

Menjelang pagi datang bencana besar, dari cerita rakyat yang berkembang datang kerang atau bia kima dari arah laut dengan kecepatan tinggi menuju Desa Wai Bot. 

Entah bagaimana detailnya, dikisahkan kerang yang menyerang desa tersebut cangkangnya terbelah menjadi dua.

Saat itu pula konon kabarnya air yang ke luar dari cangkang kerang memenuhi Desa Wai Bot. Perkampungan ini pun berubah menjadi Telaga Kabau.

Konon kabarnya hanya orang-orang tertentu, seperti ketua adat setempat, yang bisa melihat Telaga Tahaga Tau Fon.

Telaga Kabau berada diantara dua desa di Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Yaitu  Desa Kabau Darat dan Desa Kabau Laut. Untuk itu, ditempat tersebut juga hadir jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut.

Destinasi Telaga Kabau menawarkan pesona hutan mangrove. Dengan latar belakang hamparan hijau hutan mangrove, kamu bisa mendapatkan spot Instagramable dari atas jembatan penyeberangan yang terbuat dari kayu.

Tempat indah ini sudah tentu sering dilalui warga Desa Kabau Darat dan Kabau Laut. Namun, hingga saat ini belum banyak wisawatan dari daerah lain yang berkunjung untuk melihat pesona Telaga Kabau.

Salah satu kendala, adalah lokasinya yang masih sulit dijangkau. Tapi jangan khawatir, saat ini Pemkab Kepulauan Sula tengah membangun akses jalan dari Desa Fokalit menuju Desa Kabau Darat.

Selain indah, Telaga Kabau juga menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat setempat.

Seorang penduduk asli Desa Kabau Laut, Safari Naipon menceritakan Telaga Kabau konon dulunya merupakan perkampungan yang ada di bagian Selatan Maluku Utara.

Perkampungan itu bernama Wai Bot yang berarti air putih. Desa itu kemudian berubah menjadi telaga seperti sekarang ini, setelah terjadi konflik antar-suku (soa).

Persoalan yang dihadapi adalah salah satu dari empat soa, mengusukan kepala desa dimpin oleh seorang perempuan.

Sementara adat masyarakat Desa Wai Bot, perempuan tidak bisa menjadi kepala desa karena akan mendatangkan bencana. Selain itu juga bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

Namun, mereka tetap bersikeras untuk menjadikan perempuan sebagai kepala desa, maka dari situ lah muncul berbagai macam masalah.

Menjelang pagi datang bencana besar, dari cerita rakyat yang berkembang datang kerang atau bia kima dari arah laut dengan kecepatan tinggi menuju Desa Wai Bot. 

Entah bagaimana detailnya, dikisahkan kerang yang menyerang desa tersebut cangkangnya terbelah menjadi dua.

Saat itu pula konon kabarnya air yang ke luar dari cangkang kerang memenuhi Desa Wai Bot. Perkampungan ini pun berubah menjadi Telaga Kabau.

Sumber : genpi.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher
      Minta Gambar-gambar Produk Khusus Dengan Harga Grosir Untuk Jadi Reseller? Orderan Bisa Dikirim Dengan Nama Tokomu ke Pelangganmu.
      This is default text for notification bar