Januari 9, 2022 Daur Sampah  jadi  Barang Seni  di Maluku Utara

Daur Sampah  jadi  Barang Seni  di Maluku Utara

Kisah Ulfa Zainal Daur Sampah  jadi  Barang Seni  

Hawa panas Jumat (15/10) siang sekira pukul 15.00 WIT itu membakara tubuh. Di rumah berukuran 6×8 meter itu,  Ulfa Zainal (50)   bermandi peluh  mengolah  berbagai sampah  jadi  barang seni bernilai tinggi.  Sebelum saya datang ke tempat tersebut, sudah ada tamu lain yakni salah satu pengajar dari kampus salah satu perguruan tinggi di Maluku Utara yang menjadikan Ulfa sebagai mitra untuk  pengabdian masyarakat.  

Untuk mencari rumah Ulfa di kelurahan Tafure  Ternate Utara Kota Ternate Maluku Utara tidaklah sulit. Meski  di sebuah lorong kecil, untuk menanyakan nama Ulfa  sudah familiar. Rumah itu tidak sekadar tempat  tinggal,  sekaligus  jadi bengkel  kerja dan etalase produk. Dari jalan raya masuk ke sebuah lorong kecil terlihat dari ruang tamu dan ruang tengah, semua terisi  kerajinan bernilai seni dari olahan sampah. Ada juga bahan  baku yang telah diolah setengah jadi. 

Hasil kreasi ulfa yang memanfaatkan berbagai sampah dan barang tak terpakai lainnya, foto M chi

Ibu empat  anak ini   sebagai  ibu rumah tangga   bekerja penuh waktu mendedikasikan hidupnya mengolah sampah. Menjalani  hari-harinya bergelut dengan sampah plastic, pelepah pisang, sisa kayu yang terdampar di pantai, atau kulit kerang yang dibuang setelah dikonsumsi dagingnya. Bahkan buah nipah, nyamplung atau orang Maluku Utara menyebutnya   capilong,biji  mangga,daun pandan  serta sisa hasil kelapa, dari batang, sabut, tempurung dan  bungkil,   semua dijadikan bahan kerajinan.

“Pokoknya apa saja yang dianggap sampah saya bisa buat jadi barang seni dan  bernilai uang,” kata Ulfa saat ditemui di rumahnya Jumat (18/10/2021) akhir 2021 lalu.

Dia lantas  menggunakan moto  “Sampahmu Adalah Hartaku”.  Moto itu  ditulis dengan  indah dan dipajang di ruang tengah rumah  sekaligus menjadi   etalase barang- barang  kerajinan yang dia hasilkan.

“Moto ini memotivasi diri saya dan orang di lingkungan sekitar  bahwa sampah  juga bernilai tinggi  jika kita mampu  manfaatkan  secara baik,” katanya.

Tidak itu saja, setidaknya  dengan cara ini masalah sampah plastic  bisa sedikit diatasi, caranya dijadikan   barang bernilai seni dan ekonomi.

Ulfa bercerita, bakatnya menggeluti  seni dan pemanfaatan  sampah menjadi barang kerajinan ini, bukan sebuah kebetulan. Pasalnya, bakat ini  terasah sejak kecil. Mulai dari TK SD dan SMP bakat ini sudah ada, dan   lebih matang  ketika masuk ke SMP di tahun 1980-an. Dia    sekolah  di SMP Urimesing  di Ambon Maluku. Di sini  Ulfa mendapatkan didikan tambahan dari para guru  yang dimatangkan dengan praktek.

”Menggeluti seni terutama seni rupa ini tertanam sejak sekolah TK, tetapi lebih dimatangkan ketika masuk ke tingkat SMP. Di situ banyak mendapatkan tambahan praktek. Mulai dari melukis, mengukir, mematung   serta keahlian menyulam dan lain sebagainya,” jelasnya. Kegiatannya menggunakan beragam bahan. Baik organic maupun non organic. Mulai dari benang,  plastic, kayu, buah dan batang  serta daun dari tumbuhan. Semua bisa dimanfaatkan menjadi barang seni bernilai tinggi.  Hal ini  juga yang menjadi modal dan dikembangkan hingga kini. 

Dari olah sampah yang dia geluti mampu menghasilkan  karya seni bernilai tinggi sekaligus  bernlai  uang yang  sangat lumayan. Ulfa adalah salah satu ibu kreatif di Ternate  yang  mengolah sampah.  Hasil olahannya  juga tak sekadar menjadi barang kerajinan bernilai tinggi. Dia juga dipercaya beberapa instansi   dari Kementerian Sosial  serta  Pariwisata  menjadi salah satu pelatih   berbagai kelompok masyarakat yang  ingin belajar  mendaur ulang  sampah. Bahkan siswa dan mahasiswa juga datang belajar   cara mengolah barang tak terpakai   bernilai ekonomis.

“Ada banyak kelompok masyarakat setiap saat meminta saya melatih mereka dari anak sekolah, ibu ibu organisasi kemasyarakatan hingga kelompok disabilitas atau warga berkebutuhan khusus juga ikut saya  latih,”  ceritanya.

Di rumahnya  bahkan menjadi laboratorium   siswa  belajar mengolah berbagai sampah. Untuk kelompok siswa yang datang belajar terbanyak siswa SD, SMP dan SMA. 

Ulfa menggeluti usaha ini sejak 2009 lalu. Dimulai  dengan mengumpulkan sampah plastic dan  barang   tidak terpakai lalu dibentuk menjadi beberapa benda arang  yang bisa dijual. Awal  usaha  dirintis dengan modal Rp150 ribu. Ternyata produknya mendapat tanggapan masyarakat luas. Produk   banyak diminati. Dari sampah plastic  dia  buat beragam buah tangan bernilai ekonomi tinggi.

Dalam dua tahun beroperasi usaha kerjinan sampah itu  mendapat kepercayaan pemerintah. Yang menarik kata Ulfa setahun setelah mengolah sampah  menjadi berbagai produk sudah dipercaya mengikuti pameran memperkenalkan produk  dalam beberapa iven   penting baik local maupun nasional. 

Hasil yang diikutkan pameran dan ekspo itu terbanyak   adalah    hasil mendaur ulang sampah  terutama  sampah plastic serta    sisa bahan organic. Untuk sampah plastik semisal  gelas air mineral, diambil kepalanya dan dibuat beragam kreasi untuk kebutuhan rumah tangga. Misalnya keranjang yang bisa digunakan ibu– ibu ke pasar, tempat air mineral, tempat pena, tempat kue   dan beragam kreasi lainnya. Untuk bagian tengah gelas dilebur lagi dan dibentuk menjadi asbak atau tempat debu rokok, vas bunga dan beragam peralatan lainnya. Tidak itu saja dari sampah plastic juga dihasilkan beragam kreasi seni  yang bisa menjadi buah tangan ketika ada masyarakat luar daerah yang berkunjung ke Ternate. 

Hasil kreasi  dari sampah plastic ini telah menghasilkan uang ratusan juta. Produksi olahan sampah sejak  2010 hingga 2016   yang dititipkan ke berbagai toko souvenir  mencapai seratus  juta. “Artinya dari sampah plastic yang diolah  menghasilkan uang tidak sedikit. Yang penting  lebih banyak  berkreasi menghasilkan produk,” katanya. Sementara dari bahan organic, banyak terisnpirasi membuat barang kreasi flora dan fauna. 

Ulfa mengaku ketertarikannya mengolah sampah menjadi barang kerajinan sebenarnya lebih kepada hobi yang didasari pengetahuan dan ketrampilan  yang didapatnya ketika bersekolah di SMP di Ambon. Baginya kalau merintis usaha tanpa dilandasi hobi  akan macet ketika  habis ide berkreasi.  Yang dia geluti memiliki hubungan dengan hobi  akhirnya   tetap bertahan  hingga  puluhan tahun ini.     Ketertarikannya pada seni rupa  membuatnya banyak menghasilkan karya- karya penting.  Karya seni  tak hanya berlatar flora fauna tetapi juga menghubungkan dengan kearifan local. Misalnya ada mitos- mitos  dengan pohon dan hewan di berbagai tempat di Ternate. Ulfa juga membuat semacam contoh yang menggambarkan flora dan fauna dari beberapa tempat wisata di Ternate. 

“Saya buat ayam misalnya terisnpirasi oleh kokok ayam dalam cerita turun temurun masyarakat Ternate dalam kisah terbentuknya  Danau Tolire,” ujarnya.

Jadi setiap karya seni dari sampah ini tetap punya hubungan dengan kekayaan alam maupun budaya dan tradisi ada di Ternate.   Dia juga bilang, sampah yang diolah dan menghasilkan karya selalu terinsipirasi kekayaan sumberdaya hayati baik flora dan fauna  terutama yang endemic Maluku Utara.  “Saya tertarik membuat   karya seni dari sampah ini untuk hewan  dan tumbuhan  endemik  Maluku Utara salah satu cotohnya adalah miniature burung bidadari   yang  dibuat dari buah pohon nipah digabung sabut kelapa dan kulit jagung. Ini semua adalah sampah yang tidak berguna dan hanya dibuang percuma,” jelasnya. 

Saat ini Ulfa tidak bekerja sendiri. Mendukung kegiatannya mengolah sampah dia membentuk   kelompok binaan terutama anak- anak muda di sekitar lingkungannya. Kelompok binaan  ini tujuannya bisa membantunya jika menerima banyak orderan atau pesanan produk  dalam berbagai kegiatan. Cara ini dilakukan selain untuk pemberdayaan masyarakat sekitar juga  mendidik  kelompok ikut  memanfaatkan sampah menjadi barang bernilai.  “Saya  bina 7 orang  di sekitar lingkungan saya.  Tujuannya  selain mencari bakat bakat seni  yang bisa mengembangkan produk daur  ulang sampah, juga membantu saya jika ada banyak  orederan karena tidak mungkin saya kerjakan sendiri,”  katanya. 

Baginya, pemanfaatan berbagai barang tidak terpakai dari sampah plastic hingga sisa tanaman  ini tidak hanya untuk kebutuhan local tetapi juga harus membuka  pasar ke nasional dan internasional.

Mimpi ini  akan terus diusahakan hingga berhasil dengan memperbanyak produk dan memperbaiki jenis dan kualitasnya.   “Untuk semua produk tergantung idenya apakah menarik atau tidak. Jika semua ide  terus diperbaharui didukung peralatannya maka harapan  hasil produksi bisa diekspor hingga ke luar negeri bisa tercapai.   Saya bercita cita suatu saat produk karya seni pelepah pisang  bisa go internasional,”harapnya. (*)

Tulisan ini pernah tayang di Mongabay.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher