Januari 7, 2022 Fitako Sumber Energi Terbarukan yang Belum Dilirik

Fitako Sumber Energi Terbarukan yang Belum Dilirik

Buah fitako mida, foto mongabay Indonesia

Kawasan pantai di pulau Ternate dan Halmahera umumnya banyak ditumbuhi pohon fitako atau secara nasional orang menyebutnya dengan nyamplung. Pohon ini menjadi pelindung dan peneduh kawasan pantai yang buahnya masih dibiarkan berserakan di mana mana. Hingga kini, masyarakat belum mengetahui  secara luas fungsi dan manfaat buah yang dihasilkan pohon  ini.    

Nyamplung memiliki nama latin Calophyllum inophyllum Linn dengan nama yang berbeda di setiap daerah seperti fitako (Ternate)  eyobe (Enggano), nyamplung (Jawa, Sunda, Makassar), samplong atau camplong (Madura), punaga (Minangkabau), kanaga (Dayak atau Panaga), punaga (Bali), mantau (Bima), pantar (Alor), dan masih banyak nama lain di berbagai daerah.

Di  Ternate  pohon fitako  cukup banyak  ada di kawasan pantai  Kastela, Rua   dan  Afetaduma. Sayangnya selain tidak belum dimanfaatkan, pohon-pohon nyamplung yang hidup liar di kawasan pantai ini belum juga dilakukan konservasi. Pohon ini biasanya hanya dimanfaatkan kayunya oleh para pembuat perahu untuk lunas body perahu.

Belum diliriknya buah pohon ini sebagai sumber energy terbarukan cukup berasalan  karena masyarakat belum mengetahui  betul kandungan minyaknya. Selain  sebagai sumber energy minyak buah ini juga memiliki banyak manfaat sebagai bahan obat-obatan.

“Masyarakat tidak tahu apa manfaat dari buah ini karena  dibiarkan saja seperti ini,” ujar Ramli Umar warga Rua  saat ditemui Selasa (3/1/2021) kemarin.  Di kawasan pantai ini banyak buah  fitako berserakan. Bahkan anakan pohon ini juga belum dikonservasi dan dibiarkan tak terurus.  Dia bilang yang mereka tahu pohon ini hanya dimanfaatkan kayunya jika ada yang membuat body perahu, selebihnya tidak.

Dikutip dari Antara, Rabu (17/11/2021), Peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Budi Leksono mengatakan bahwa diperlukan strategi khusus mengembangkan minyak dari pohon nyamplung sebagai bahan bakar nabati (BBN).

Pohon nyamplung yang ada di Pantai Kasetela Ternate foto M. Ichi

Saat ini, minyak nyamplung paling banyak digunakan untuk kosmetik dan obat. Bahkan, minyak nyamplung bahkan telah diekspor ke beberapa negara. Meski dihargai hingga Rp350.000 per liter untuk bahan kosmetik dan obat, pasar kosmetik minyak nyamplung sebetulnya sangat kecil.  Dikutip dari Antara, Rabu (17/11/2021) lalu Budi bilang agar nyamplung menjadi  bahan bakar nabati, pemerintah harus membuat strategi pengembangan minyak nyamplung agar harganya bisa lebih murah dari bahan bakar minyak bumi. Dengan demikian, bahan bakar nabati tidak hanya didapatkan dari minyak kelapa sawit.

Menurut Budi, minyak nyamplung dari pohon di 12 wilayah di Indonesia, memiliki nilai asam sekitar 50 mgKOH per gram, sedangkan minyak untuk bahan bakar nabati seharusnya memiliki kadar asam di bawah 0,6 mgKOH per gram.

“Jadi, kita harus menurunkan nilai asam dari sekitar 50 ke 0,6 sehingga proses yang dilalui ini cukup panjang,” katanya.

Setelah pengeringan, secara manual biji nyamplung masih mesti melalui proses pengepresan, degumming, esterifikasi, transester, pencucian, dan pengeringan sehingga dapat digunakan sebagai biodiesel. Sementara itu, secara mekanik, setelah pengeringan biji, proses pengepresan dan pembuatan biodiesel dari minyak nyamplung dapat dilakukan dengan mesin.

Menurut Budi, pengembangan minyak nyamplung sebagai bahan bakar nabati di samping minyak kelapa sawit perlu dilakukan mulai dari sekarang. Dengan demikian, Indonesia tidak tertinggal dari negara lain dalam mendiversifikasi bahan energi baru dan terbarukan (EBT).

“Kita lihat Brasil dan Amerika Serikat sudah ekspor bioetanol. Kita punya tanaman untuk bioetanol yang produktivitasnya mungkin lebih besar dari yang dimiliki Eropa dan AS, ini yang mesti kita kembangkan pelan-pelan dan pastikan ke depannya,” katanya.

Dikutip dari (https://www.litbang.pertanian.go.id/buku/bahan-bakar-nabati/nyamplung.pdf) menyebutkan bahwa  nyamplung   merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang termasuk dalam family Clusiceae. Tanaman yang memiliki nama latin Calophyllum inophyllum ini ternyata menjadi jenis tanaman yang tersebar luas di berbagai belahan dunia, yaitu mulai Afrika Timur, India, Asia Tenggara, Australia, hingga Pasifik Selatan. Di Indonesia sendiri nyamplung menjadi tanaman yang tersebar luas di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku,   Nusa Tenggara Timur.

Melihat karakteristik habitatnya, ternyata jenis tanaman ini hidup dengan baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 1.000-5.000 mm/tahun. Selain itu biasanya ia memilih habitat pada ketinggian 0-200 mdpl. Contohnya yaitu pada lahan yang berada dikawasan hutan pantai. Sehingga tak heran bila nyamplung pada umumnya banyak di jumpai disekitar pinggir pantai.

Sekadar  ketahui, jenis tumbuhan hutan satu ini ternyataa memiliki potensi yang sangat besar dalam menciptakan energi baru terbarukan. Tentunya menjadi salah satu sumber bahan baku yang memiliki tingkat keramahan lingkungan yang tinggi. Salah satu potensi yang dimilikinya yaitu dapat menjadi sumber penghasil minyak nabati yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Hal ini dikarenakan nyamplung memiliki kadar minyak yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 40-73% (w/w). Minyak nabati yang ia hasilkan pun mencapai 4680 kg/ha.

Dikutip dari (https://greenindonesia.co/2018/07/alternatif-energi-dibalik-biji-nyamplung/ bila bandingkan dengan produktivitas sawit, ternyata nyamplung memiliki nilai produktivitas yang lebih tinggi. Perbandingannya bisa mencapai tiga kali lipat dari hasil produktivitas sawit.  

Tak hanya itu, nyamplung merupakan jenis tanaman penghasil non-edible oil, sehingga ia tidak bersaing dengan kebutuhan untuk pangan. Sumber penghasil minyak nabati yang dihasilkan oleh nyamplung  terdapat pada bagian bijinya. Ini menjadi keuntungan lain yang dimiliki  nyamplung. Karena seperti sawit, jenis tanaman hutan ini bisa dimanfaatkan berdasarkan dari hasil bukan kayunya. Sehingga dalam pemanfaatannya kita tak usah menebang batang pohon nyamplung. Akan tetapi cukup  memanfaatkan biji yang dihasilkan. Salah satu kelebihannya lagi, tanaman nyamplung berbuah sepanjang tahun. Hal ini akan memudahkan kita dalam menyediakan bahan baku biodiesel.

Biodisel merupakan senyawa methyl ester atau ethyl ester yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak bumi. Umumnya biodiesel lebih ramah lingkungan karena kandungan yang dimiliki bahan bakar yang dihasilkan bersifat biodegradable dan non toxic. Pada tumbuhan nyamplung   untuk menghasilkan biodiesel perlu dilakukan beberapa tahapan utama, yakni pembuatan minyak mentah dan biodiesel. Minyak nyamplung adalah minyak hasil ekstraksi dari biji nyamplung yang dilakukan dengan menggunakan mesin pres.  

Sayangnya sampai saat ini pemanfaatan nyamplung  sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia masih sangat rendah. Padahal ketersediaan biomassanya sangat berlimpah. Hal ini setidaknya dipengaruhi oleh biaya produksi yang masih terkategorikan tinggi, yaitu antara Rp20.000 – Rp25.000 per liter. Namun bila dibandingkan dengan solar yang biasa digunakan, satu liter solar hanya bisa  10 km. sedangkan satu liter bahan bakar yang dihasilakan nyamplung ini bisa mencapai 12 km.  (*)

Sumber : Kabarpulau.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher
      Minta Gambar-gambar Produk Khusus Dengan Harga Grosir Untuk Jadi Reseller? Orderan Bisa Dikirim Dengan Nama Tokomu ke Pelangganmu.
      This is default text for notification bar