November 19, 2021 Punahnya Sumber Daya Genetik Pangan Orang Tobaru

Punahnya Sumber Daya Genetik Pangan Orang Tobaru

Ragam jenis pisang banyak ditemukan di masyarakat Tobaru

Koleksi sumberdaya genetic pangan (SDGP) local di Halmahera Barat sangat banyak. Sayangnya ada sebagian  sudah  di ambang kepunahan. Beberapa varietas pisang dan padi meski sudah diinventarisasi oleh Balai Pengkajian  Tekhnologi Pertanian (BPTP) Wilayah Maluku Utara  bersama  nama lokalnya, tetapi belum ditemukan materi genetiknya untuk dikembangkan.  

Pisang Moraka begitu orang Tobaru menyebut,  diklaim sudah punah karena semakin jarang ditemukan. Di daerah pedalaman Halmahera Barat jenis pisang ini sudah  punah. Di desa Togoreba Tua, pisang ini sudah sangat jarang ditemukan.   Selain  moraka  ada juga pisang  bituana.

“Pisang jenis ini sudah semakin langka dan mungkin sudah tidak ada. Sudah puluhan tahun pisang ini  tidak ditanam lagi,” jelas  Tawas Tuluino  Ketua Adat  Tobaru Togoreba Tua. Dia akui dua jenis  pisang tersebut  semakin sulit ditemukan bahkan  mulai menghilang dari masyarakat adat Tobaru. Masyarakat mau tanam pisang ini tetapi sudah sulit ditemukan anakannya. 

“Torang  mau tanam lagi  agar  diperbanyak sehingga jenis pisang tidak hilang, tetapi mau dapat di mana ,” katanya akhir Februari  2021 lalu.

Pisang moraka   dan bituana hanyalah   contoh pisang yang terancam punah di Halmahera Barat. Dia menyebut jenis pisang  ini di kampungnya  dulu sangat banyak ditanam warga. Tetapi 20 tahun terakhir sudah tidak ada lagi.     Itu baru dari jenis pisang. Belum lagi jenis padi atau  umbi-umbian.

Menurut Tawas   jenis padi  local yang telah hilang dan tidak lagi ditanam warga  misalnya Kapuraca, Misiri, Suuru, Gamtala. “Kami tidak tahu sejak kapan empat jenis padi ini tidak ditanam lagi.  Sebelum  1999    warga sudah tidak menanam  jenis jenis padi tersebut,” jelasnya

Dia bilang, ancaman hilang  jenis padi local ini  serius karena  bertahan tidaknya jenis padi ini tergantung   selera  petani menanam jenis padi yang disukai. Ada jenis padi tertentu yang diaggap gurih pasti selalu ditanam. Warga Togoreba Tua misalnya menyebutnya dengan padi alus adalah  salah satu varietas yang terus ditanam warga .

Ada banyak jenis padi local.  Jika   sudah tidak ditanam  dua  atau tiga kali musim tanam   maka   benihnya  hilang. 

Dia bilang lagi sebelum  koflik tahun 1999  masih banyak jenis padi local yang biasa ditanam petani. Namun seiring waktu beberapa  jenis padi  mulai  susah didapat lagi benihnya.  Begitu juga  tanaman pisang beberapa jenis sudah sulit ditemukan agar  bisa dibudidayakan kembali.  

Pengakuan para petani banyak sumberdaya genetic pangan local baik padi maupun pisang. Warga menyebut beberapa jenis pisang   sudah punah.   

“Dua jenis  pisang  itu tidak bisa bertahan lama. Jika tidak dirawat dan dikembang biakan maka akan cepat hilang.Berbeda degan pisang raja, tahan hingga puluhan tahun,” jelas  Herman Ime petani desa Togoreba Tua.  

Hasil riset  Balai Pengkajian  Tekhnologi Pertanian (BPTP) Wilayah Maluku Utara menemukan aksesi padi gogo atau padi local sangat banyak di Halmahera Barat Maluku Utara. Jumlahnya ada 15 aksesi.

Yayat Hidayat Peneliti dari Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) wilayah Provinsi Maluku Utara menyebutkan Halmahera Barat memiliki potensi sumber daya genetik tanaman sangat banyak.  Hal itu berdasarkan data hasil eksplorasi dan inventarisasi Sumberdaya  Genetik (SDG) tanaman mulai dari Jailolo sampai ke Loloda.

“Untuk jenis pisang  di Halbar kami sudah mendata  pisang bituan dan pisang pulut belum ditemukan materi genetiknya,” jelas Yayat. 

Sementara  untuk jenis padi local, terdapat 51 aksesi tanaman padi lokal (padi ladang). Untuk tanaman  hortikultura terdiri atas 9 aksesi pisang. Dari hasil inventarisasi tersebut keberadaan materi genetik plasma nutfah tersebut memang harus diuji dengan dikarakterisasi dan evaluasi. Apakah aksesi tersebut banyak yang sama atau memang berbeda.

Hasil inventarisasi yang telah dilaksanakan   dan dari data-data  yang sudah terkumpul tersebut, sebagian besar sudah ada materi genetiknya berupa benih, yang selanjutnya dikarakterisasi dan sebagian sudah didaftarkan  sebagai varietas lokal asal Halmahera Barat.

“Untuk padi lokal belum dilakukan pendaftaran varietas karena datanya belum lengkap semua, sedangkan komoditas tanaman pangan yang sudah didaftarkan ke Pusat Perlindungan  Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP)  adalah   kacang tanah   dan jagung.

Dia bilang,  hasil inventarisasi padi lokal asal Halmahera Barat, yang saat ini masih banyak ditanam untuk daerah Tobaru  yakni Padi tela, Bule, Pako, Gamtala, Aralaha, dan Daru. Ini berdasarkan hasil inventarisasi  yang dilakukan 2019  lalu. 

Dari 51 aksesi padi lokal yang sudah diinventarisasi, sekitar 60 % dari padi lokal tersebut, BPTP tidak dapat materi genetiknya. Hal itu mengindikasikan aksesi lokal tersebut terancam punah.

Bagi BPTP,  ancaman kepunahan benih padi lokal asal Halmahera Barat bisa terjadi,  dikarenakan adanya   dampak dari alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke non pertanian (tambang atau  perumahan),  penggunaan varietas baru yang umurnya lebih pendek dibandingkan varietas lokal yag rata-rata panen 150-170 HST.  Semakin sedikitnya minat petani lokal untuk bertani. Di mana   banyak anak-anak  petani yang lebih memilih bekerja di luar sector non pertanian, sehingga banyak benih lokal yang biasanya disimpan untuk musim tanam berikutnya digunakan untuk konsumsi dan tidak ditanam lagi.

Untuk komoditas hortikultura terutama pisang, di pedalaman Halmahera Barat banyak tersimpan kerabat liar dari pisang yang biasa dikonsumsi.

“Salah satunya, kami dan tim pernah eksplorasi menuju Danau Rano di daerah Sahu, melihat potensi pisang hutan yg sangat tinggi (10-12 m) dan beberapa aksesi pisang liar lainnya,” jelas Yayat.

Sedangkan untuk pisang yang biasa dikonsumsi ada beberapa aksesi yang telah diinventarisasi. Di antaranya pisang Bituan, Mas, Meja, Mulu bebe Hijau, Mulu Bebe Putih, pulut, sepatu kuning, sepatu putih, tongkat langit, dan pisang manado. Untuk pisang yang sudah diinventarisasi, saat ini BPTP telah mengkoleksi di kebun koleksi.  Sedangkan  yang belum tereksplorasi belum didapatkan datanya.

Untuk mencegah terjadinya kepunahan dari plasma nutfah tersebut, BPTP telah telah melakukan ekplorasi, inventarisasi, karakterisasi, dan pendaftaran serta konservasi eks-situ (Kebun Koleksi BPTP) dan in-situ dalam rangka pelestarian SDG tersebut. Selain itu, bersama   Komda  Sumberdaya genetic (SDG)  Maluku Utara mencoba  untuk meningkatkan nilai tambah plasma nutfah potensial agar bernilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi daerah.  “Salah satunya dengan didaftarkan sebagai varietas lokal, jika sudah terdaftar, benih padi ataupun komoditas lainnya dapat dimanfaatkan oleh pemda khususnya instansi terkait dalam program penanaman dengan menggunakan benih lokal tersebut,” kata Yayat.  Benih lokal juga  bisa diperjualbelikan dengan harga sesuai  harga benih bukan harga konsumsi.

Karena itu Yayat   menyarankan kepada  pemerintah derah   agar dengan  nilai keanekaragaman hayati yang demikian tinggi, di pasar global  dijadikan ini sebagai  peluang bagi daerah untuk memperoleh pendapatan dari sumber daya hayatinya. “Dalam era desentralisasi, setiap daerah mempunyai hak mengelola dan mendapatkan keuntungan dari aset tersebut. Dengan melihat tren global bahwa keanekaragaman hayati menjadi “emas baru” maka seyogyanya pembangunan di daerah bertumpu pada masing-masing sumber daya hayatinya, dengan pola yang berkeadilan dan berkelanjutan,” sarannya.

Hal ini akan memberikan manfaat ekonomi terhadap pemilik varietas lokal/masyarakat setempat. Apabila bila varietas lokal sudah diberi nama dan didaftarkan di Pusat PVTPP serta  digunakan sebagai tetua (varietas asal) untuk menghasilkan varietas baru (varietas turunan esensial) serta mendapat Hak Perlindungan Varietas Tanaman. Hal ini  juga diatur dalam   PP 13 Tahun 2004.

Untuk mengatasi ancaman kepunahan berbagai sumberdaya genetic BPTP Maluku Utara juga katanya telah melakukan  upaya Konservasi SDGT yang telah dilakukan dengan ekplorasi  dan inventarisasi SDGT pangan, hortikultura, perkebunan, Biofarmaka (lokal maupun introduksi) yang jumlahnya  + 382 aksesi. Membangun kebun koleksi SDG tanaman lokal (pangan, hortikultura, perkebunan)  dengan   114 aksesi  ditemukan  di Tidore dan Bacan.  

Melakukan juga karakterisasi tanaman lokal  sebanyak 38 tanaman pangan  dan 31 jenis hortikultura, melakukan  pendaftaran varietas lokal bersama  pemerintah daerah melalui Dinas Teknis  sebanyak  49 varietas local.

Kerjasaman dengan pemerintah  Pusat, PVTPP  dan sosialisasi pengelolaan  dan pemanfaatan SDG serta pendaftaran  varietas local. (*)

Sumber : Kabarpulau.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher
      Minta Gambar-gambar Produk Khusus Dengan Harga Grosir Untuk Jadi Reseller? Orderan Bisa Dikirim Dengan Nama Tokomu ke Pelangganmu.
      This is default text for notification bar