November 5, 2021 Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

Orang Tobaru

Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang didiami masyarakat Tobaru atau warga  setempat menyebutnya dengan Tabaru.

Sekadar  diketahui, kelompok masyarakat Tobaru adalah salah satu  suku asli Halmahera yang mendiami  sebagian besar Halmahera Barat, beberapa desa di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan. Kehidupan mereka tergantung pada hutan  untuk berkebun  tanaman pangan dan perkebunan.

Suasana Desa Podol desa pertama kecamatan Tabaru Halmahera Barat

Keduanya berangkat sejak pagi karena selain mengumpulkan buah pala yang jatuh jika sudah matang,  juga  ada  kebun  yang tak jauh dari dusun kelapa dan pala itu  ditanami padi perlu diperiksa tiap pagi.  Kebun seluas ¼ hektar yang ditanami padi itu mulai berisi. Warga menyebutnya padi mulai bunting, setelah lima bulan ditanam. Rin dengan saloi (alat angkut barang,red) saat  ke kebun, membawa parang dan air putih. Bekal air ini  cukup  karena siang  akan balik lagi ke kampung.  “ Pagi pagi  kami  sudah harus  ke kebun karena selain kuatir binatang yang merusak tanaman juga harus bekerja sejak pagi agar sebelum terasa panas di siang hari kerja sudah bisa selesai,” katanya saat ditemui di lahan kebunnya.

Rin menamam padi dari sumber benih lokal  yang ditanam turun temurun masyarakat Tobaru. Di kebun itu selain  padi  juga ada pisang dan jahe.

“Padi ini ada nama lokalnya tapi orang di sini biasa sebutnya dengan padi alus,”kata Rin. Padi jenis ini ditanam  sebanyak tiga kulak. Ukuran  satu kulak itu sekira 8 cupak atau kaleng susu. Padi  yang mulai berisi jika diamati ternyata terlihat ada banyak jenis.  Ada juga padi pulut hitam dan merah  ikut  tercampur,” katanya.

Padi-padi ini    bisa dipanen sebulan lagi  awal April in.

Di masyarakat Tobaru dan  berlaku bagi  petani padi ladang  Maluku Utara,  menganggap  ada pantangan ketika padi mulai berisi   lalu ada orang menebang  pohon atau memanen  buah kelapa  yang jatuh dan menghasilkan bunyi sangat kuat dekat kebun. Hal ini diyakini dapat menyebabkan  padi mengalami puso atau gagal panen karena tidak berisi.  “ Keyakinan masyarakat seperti itu  jika padi sedang berisi kita tidak bisa menebang pohon atau menimbulkan  bunyi yang sangat  ,” jelas Rin. Karena itu saat kami datangi kebunnya tak berani masuk sampai ke tengah kebun.  

Rini juga bercerita   di kebun yang ditanami  padi itu, saat pembersihan lahannya  dikerjakan  sendiri. Menebang pohon dan semak belukar   kemudian dibersihkan  dan ditanam   padi ladang. 

Suaminya sibuk mengurus panen dusun kelapa dan pala. Lahan ini sebenarnya   bekas   kebun   yang sebelumnya sudah pernah  dibuka dan belum ditanami tanaman tahunan.  Di sebelah kebun padinya  masih ada lahan  yang disisakan lahan berhutan  yang  belum dibuat menjadi kebun. Nanti musim tanam padi berikutnya akan dibuka lagi untuk ditanami  padi. Sementara  lahan yang sudah ditanami padi itu akan diganti   pisang,   serta tanaman tahunan   seperti pala dan kelapa.

Padi milik Rin memang tidak seberapa. Tetapi  ini adalah bagian dari tradisi orang  Tobaru yang setiap tahun menanam padi, tidak  hanya untuk dimakan tetapi  bagian dari kebutuhan berbagai ritual,  syukuran   dan acara -acara adat.   

Di masyarakat Tobaru  kadang   hutan   dibuka menjadi kebun dan hanya sekali ditanami padi,  kemudian  dibiarkan menjadi hutan sekunder. Praktek ini sebenarnya, dilakukan juga sebagian besar suku suku asli di Halmahera dan Maluku Utara umumnya. Mereka   menyebutnya Jorame.   Jorame ini akan dibuka lagi 10 sampai 15 tahun berikutnya  untuk dibuat kebun dan ditanami padi lagi atau  tanaman pangan lainnya.

Sama seperti kebun yang dikelola Rin,  sebelumnya adalah    jorame  yang dtinggalkan sekira 15 tahun lalu dan   dibuka   untuk ditanami padi.  

Praktek ini sebenarnya biasa dilakukan warga di Halmahera untuk mengembalikan kesuburan tanah  kebun.    

 Rin bilang kehidupan mereka tidak bisa dipisahkan antara hutan dan berkebun. Kebun menjadi sumber penghidupan tak hanya untuk mendapatkan uang tetapi  sebagai tempat menghasilkan pangan.  

Pentingnya  kebun dan hutan itu,  maka orang Tobaru memiliki pegangan  hidup yang dikenal dalam bahasa local mereka dengan “Obongana gena mia wawango ma ugulu ka gengino o orasa nena si ado-ado nika o ngoka deo dononguku.

Yang artinya “hutan itu sumber hidup kami dari dulu, sekarang hingga anak cucu. Kalimat bijak ini menjadi dasar masyarakat adat Tobaru di Kabupaten Halmahera Barat melaksanakan aktivitas bertaninya. 

Bicara tradisi berkebun dan memperlakukan alam  terutama hutan,    oleh  masyarakat adat Tobaru  nyaris sama dengan suku- suku asli Halmahera yang lain.

Mereka selalu mempercayai alam punya kekuatan. Karena itu dalam membuka lahan baru, dijalankan dengan prosesi dan ritual. Meski diiakui  di kalangan orang muda hal ini sudah mulai ditinggalkan tetapi kalangan orang tua- tua masih memegang teguh dan sering mempraktekkannya. 

Dalam usaha  saling membantu,  orang Tobaru juga punya tradisi yang  dijaga turun temurun ketika membuat kebun.

Masyarakat Tobaru  punya  tradisi gotong royong   yang disebutnya dengan Wange Mia Makakaesa atau saling membantu membuat kebun.

Wange Mia Makakaesa ini dilakukan atau berlangsung sejak membuka lahan sampai   menanam hingga panen. Semuanya dilakukan secara bergotong royong. Mereka biasanya  berkelompok antar warga sekampung atau juga dilakukan di lingkar keluarga inti saja.

“Tradisi ini masih hidup di tengah masyarakat hingga saat ini,”jelas Tawas Tuluino Ketua Adat Tobaru Desa Togoreba Tua. Dia bilang, praktek ini tidak hanya  untuk membuka kebun dan menanam hingga panen. Untuk kerja- kerja lain misalnya panen kelapa dan lain lain juga bisa diberlakukan.

Meski ada pergeseran karena sebagian sudah berbayar    sebenarnya praktek saling membantu ini masih tetap hidup di tengah masyarakat. 

Saat ini saling membantu ini juga sudah berkembang luas dengan membentuk kelompok yang bisa disewa untuk  membersihkan  atau menanam di kebun.

Biasanya  orang yang membentuk kelompok  itu ada tiga empat sampai puluhan orang. Mereka melakukan  hal ini untuk sekadar mencari pendapatan tambahan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain pendapatan utama dari  menjual hasil kebun, dengan membentuk kelompok kelompok kecil ini memudahkan para petani  dalam berkebun karena bisa disewa untuk pembersihan kebun.

Di kalangan Orang Tobaru sebagai komunitas masyarakat adat, juga sangat menjunjung tinggi nilai- nilai kekeluargaan. Slogan “nou po maka dora” yang artinya  Kita semua saling  menyangi dan  membantu melekat erat dalam keseharian.

Istilah po maka dora sebenarnya dipakai dalam berbagai hal.  Dalam hubungannya dengan  berkebun  lebih   ini berhubungan dengan  rasa sayang  seseorang pada  kerabat termasuk anak perempuan yang telah  menikah dan keluar dari rumah orang tua.   Karena  sayang  itu ketika lahan kebun yang sudah dibersihkan  dan siap ditanam, bisa dibagi  untuk ditanam bersama.  Jadi ada satu bagian tanah yang sudah dibersihkan dan siap ditanam itu diberikan sebagian kepada orang yang disayang. atau dikasihi.  Dalam istilah orang  Tobaru dikenal dengan  mongangaweka atau perempuan yang sudah kawin  dan keluar dari rumah dan  balik meminta sesuatu.  Jika nanti  dikasih  maka  kebun yang sudah dibersihkan juga diberikan kepada  anak perempuan itu.

Biasanya lahan yang sudah bersih itu ditanam padi.  Karena itu dora sebenarnya implementasinya  dalam banyak hal termasuk dalam   hal  berkebun.

Membuka Kebun Baru  

Dalam tradisi membuka kebun tahapan pertama  dimulai dengan sodoaka  atau potong tali dan kayu yang kecil-kecil atau o sodoaka. Setelah sodoaka lalu membersihkan rumputnya. Jika sudah selesai dilanjutkan dengan   penebangan  pohon pohon.

Kayu- kayu kecil itu dipotong potong setelah melewati tahapan penebangan menunggu  musim panas   untuk dibakar. Karena telah dihitung waktunya, dahan dan ranting yang kering dan siap dibakar itu memasuki  musim  panas  atau kemarau.   Dalam membakar lahan yang baru dibuka  selalu dibersihkan batas   agar api tidak merambat keluar. “Jadi  arah  membakar mengikuti arah angin dan dibakar dari pinggiran.  Setelah melewati tahap bakar jika api  terbakar keseluruhan  akan bersih tetapi jika tidak bersih maka diangkat batang- batang yang tersisa   atau disebut dengan Yokaagomo untuk dibakar ulang dengan ditumpuk di suatu tempat. Setelah melewati tahap tersebut  lalu dibersihkan  bahkan disapu bersih  menggunakan salara  atau sapu lidi dari dari daun enau. Jika sudah bersih selanjutnya dilakukan proses menanam padi.  Biasanya  untuk kebun yang baru dibuka dari hutan itu tanaman utamanya adalah padi.

Ketua  Program Studi Antropologi  Fakultas Sastera dan Budaya Universitas Khairun Ternate Syafrudin Abdurahman menjelaskan, dalam beberapa studi terhadap masyarakat adat dan suku-suku asli di Pulau Halmahera menemukan adanya kemiripan di dalam aktivitas membuka dan menyiapakan kebun hingga menanam. Kemiripan itu juga ada pada tradisi  masyarakat Tobaru, atau  Tobelo Galela atau dikawasan Halmahera   yang lain. Hanya menurutnya  beda dalam penyebutan. Dia menconotohkan tradisi Tolagumi misalnya menjadi tradisi umum  di Maluku Utara. Terutama untuk mereka yang membuka kebun baru.   Dia  mengakui  tradisi tradisi lama  yang  hidup di tengah masyarakat petani, ketika masuknya agama   berbagai ritual dan tradisi itu mulai hilang. Secara umum katanya berbagai ritual sejak membuka hutan membersihkan hingga menanam itu semua ada ritual dan  hamper sama di semua daerah di Maluku Utara.

“Saya contohkan paling nyata  di kalangan orang Tobelo Dalam,  tradisi Gomatere  itu sudah perlahan lahan mati karena masuknya agama kepada mereka,” jelas Syafrudin. 

Dalam tradisi syukuran yang dilakukan   kampung-kampung  di Ibu termasuk di kalangan orang Tobaru, sebenarnya dulu adalah bagian dari tradisi atau ritual yang dipersembahkan  kepada alam  sebagaimana mereka yakini.  Tetapi ketika ada keyakinan  baru masuk kepada mereka kemudian bentuk ucapan syukur yang dipersembakan  kepada alam itu  beralih ke gereja misalnya. Karena hasil panen yang didapatkan dari  hasil kebun itu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan.  Sementara  tradisi lama mereka membuat ritual atau makan-makan  yang dipersembahkan ke pohon-pohon  atau tempat  di  alam yang dianggap punya kekuatan.

Hasil riset antropologi yang dilakukan, nenek moyang orang Tobaru sebenarnya hidup berpindah pindah atau nomaden seperti suku Tobelo Dalam, Hanya yang membedakan  adalah area atau daya jelajah karena  wilayah mereka  terbatas. Tidak keluar dari zona mereka.

Dalam praktek lama ketika ada keluarga  yang meninggal  mereka akan berpindah meinggalkan tempat tersebut, termasuk ketika terserang wabah. Mereka percaya roh-roh orang mati masih hidup sehingga   meninggalkan lokasi atau wilayah yang ditempati. Saat mereka  berpindah selalu di malam hari. Tujuannya agar lalat sebagai sumber penyebar penyakit tidak mengikuti saat pindah. Sebab mereka tahu lalat itu menjadi sumber penyebar penyakit. “Nenek moyang   suku suku asli ini sangat tahu  lalat itu menjadi sumber penting dari penyebaran penyakit,” jelas Abdurahman yang focus   riset antropologi kesehatan di beberapa kelompok masyarakat local di Maluku Utara itu. 

Dia  bilang  lagi, beberapa risetnya di suku suku asli Halmahera menemukan jika ada kemiripan dalam hal praktek membuka hutan untuk berkebun menanam hingga jaga alam.

“Soal tradisi buka kebun baru dari hutan perawan,  menanam hingga proses panen  sebenarnya memiliki kemiripan untuk beberapa kelompok masyarakat di Halmahera,” tutupnya. (*)

Sumber : Kabarpulau.co.id

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher
      Minta Gambar-gambar Produk Khusus Dengan Harga Grosir Untuk Jadi Reseller? Orderan Bisa Dikirim Dengan Nama Tokomu ke Pelangganmu.
      This is default text for notification bar