September 29, 2021 Jejak Masa Lalu dalam Sebuluh Bambu

Jejak Masa Lalu dalam Sebuluh Bambu

Pembuatan Nasi Cala

SELALU ada kisah di dalam sehidangan santapan, begitu pula dalam beragam tradisi bersantap di sejumlah kawasan di Indonesia timur. Di sana, beragam tradisi bersantap menjadi artefak hidup dari jaring-jaring perdagangan, perompakan, persekutuan, dan pertikaian suku bangsa di Indonesia timur. Bercy Kalengit menggelar daun pisang wanan lebar yang segar di atas meja dapur Yoel Sungi. Kedua tangannya terhunjam ke semangkok beras yang terendam air.

Perlahan ia menaburkan beras basah itu di kiri-kanan tulangan daun pisang. Dua taburan beras memanjang lantas ia tutup dengan menggulung dua belahan daun pisang tersebut. Tangannya lantas mengelus daun pisang itu, merapikan sepasang lontong ”kembar dempet” itu. ”Sekarang sudah tahu kan kenapa beras cala juga disebut nasi kembar,” kata Kalengit. Hati-hati ia mengangkat calon nasi kembarnya dan memasukkannya ke dalam bambu hijau yang jarak antar-bukunya 1 meter lebih. ”Kita harus memakai bambu lou-lou yang jarak antarruas bambunya panjang agar bisa membuat nasi cala yang panjang.

Daun pisang yang membuntal berasnya pun khusus, yaitu daun pisang wanan yang lebar dan liat. Beras terbaik untuk nasi cala adalah beras ladang yang secara turun-temurun kami tanam,” kata Kalengit. Kalengit dan belasan perempuan Kampung Gamtala harus membuat sekitar 60 nasi cala ukuran besar untuk dihidangkan dalam pesta adat penggantian atap nipah sasado atau rumah adat tradisional suku Sahu di Kampung Gamtala, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara.

Yoel Sungi menuturkan, nasi cala yang tak berbumbu itu adalah hidangan wajib dalam setiap pesta adat di Gamtala. Jejak pertautan Gamtala yang terletak di Pulau Halmahera pernah begitu dekat dengan pusat kekuasaan, ketika Kesultanan Jailolo di Halmahera berjaya menguasai Maluku Utara. Kesultanan Jailolo akhirnya ambruk dan dihancurkan Kesultanan Ternate pada 1551.

Penaklukan Jailolo oleh Ternate mengawali sejarah panjang persaingan Ternate dan Tidore yang menautkan sejarah sejumlah kawasan di Indonesia timur. Mulai dari Minahasa dan Manado; Ambon, Banda, dan Seram yang kaya cengkeh di Maluku, hingga kawasan Kepala Burung dan Teluk Cenderawasih di Papua Barat dan Papua. Nasi buluh bambu adalah jejak tautan masa lalu itu. Meski memiliki cita rasa yang sama sekali berbeda, nasi cala dari Gamtala sungguh serupa dengan nasi jaha yang kerap dimasak dalam beragam pesta masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara.

Tradisi memasak beras dalam buluh bambu juga menapak di kawasan Teluk Cenderawasih dan Sorong di Papua dan Papua Barat. ”Tradisi memasak nasi dalam buluh bambu adalah tradisi baru yang dipengaruhi tradisi kuliner Maluku Utara atau Minahasa. Sulit memastikan asal-usul pengaruh itu karena interaksi orang Papua, Maluku, dan Minahasa sangat panjang dan intens,” kata antropolog dan Ketua Lembaga Riset Papua, Johszua Robert Mansoben.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-15, tradisi korsandi menghidupkan kompetisi sengit para mambri (sebutan bagi orang terpandang) Biak untuk berlayar jauh. Penjelajahan bahari yang panjang dan lama para mambri itu berbekal forma, sagu yang dibakar dalam buluh bambu dan kini dikenal di mana-mana. ”Sebaliknya, para mambri pulang membawa cara memasak nasi dalam buluh bambu. Rica-rica adalah contoh lain tradisi santap Minahasa yang kini menjadi santapan sehari-hari di Teluk Cenderawasih. Transaksi tradisi bersantap juga dibawa orang Sanger yang kerap terdampar di Biak Utara dan Supiori Utara,” kata Mansoben.

Rica-rica juga santapan yang jamak didapati di Ternate, Tidore, ataupun Halmahera. Tradisi dagang Muridan S Widjojo—sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang meneliti relasi sejumlah suku bangsa di Indonesia timur dalam perang pemberontakan Sultan Nuku dari Tidore—menilai kemiripan beragam santapan di Indonesia timur dilumasi sosolot, tradisi ekspedisi dagang orang Seram yang sejak abad ke-15 mengangkut damar, pala panjang, dan kulit buaya dari Papua sejak abad ke-15. Sebagai bandar transito cengkeh dan pala, Seram Timur disinggahi ekspedisi dagang dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk para pelaut Bira di Sulawesi Selatan.

Sejumlah dokumen syahbandar Banda dan Seram abad ke-17 menunjukkan, para pelaut Biak dan Raja Ampat masih menjadi pemasok sagu di kedua pulau itu. Beberapa dokumen VOC dari abad ke-17 juga menyebutkan kapal perompak Biak, Raja Ampat, Jailolo, Sanger yang ditangkap VOC juga mengandalkan sagu sebagai bekal selama melaut. ”Relasi panjang dalam bentuk dagang, perompakan, pertikaian, juga persekutuan perang telah meleburkan beragam tradisi kuliner di kawasan Indonesia timur,” kata Muridan.

Warga Danau Sentani dan Palopo, misalnya, sama-sama memiliki sajian jenang sagu berkuah sop ikan. Orang Danau Sentani di Papua menyebutnya papeda, memasak jenang sagu dan sop ikan kuah kuning secara terpisah. Orang Palopo di Sulawesi Selatan menyatukan jenang sagu dan sop ikan dalam semangkuk sajian kapurung. Keduanya sama-sama segar oleh rasa asam, sama-sama kaya rempah, sama-sama bakal memuaskan selera. (Aryo Wisanggeni)

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher