September 14, 2021 Tikar Kalasa, Kerajinan Khas Halmahera dari Pelepah Rumbia

Tikar Kalasa, Kerajinan Khas Halmahera dari Pelepah Rumbia

Rukfiah saat membuat tikar kalasa di halaman depan rumahnya. Foto: Risman Rais

Tahan lama dan multi fungsi menjadi keunggulan kerajinan berbahan dasar kulit pelapah rumbia dari Halmahera Timur. Kerajinan yang dikenal dengan nama Tikar Kalasa ini masih dipandang sebelah mata, padahal pesanannya kebanyakan dari luar Maluku Utara.

“Saya hanya bisa berharap pembeli yang datang dari Buton karena bisa beli banyak. Mereka beli tikar kalasa kami hingga 20 buah. Karena banyak yang diambil, saya jual dengan harga Rp50.000. Tikar itu katanya dijual lagi ke Papua, Manado, dan daerah lainnya,” kata Rukfiah, salah satu pengrajin tikar Kalasa saat ditemui cermat, pekan kemarin.Tikar kalasa menjadi kerajinan andalan bagi ibu-ibu di Desa Kasuba dan Desa Bicoli, Maba Selatan, Halmahera Timur. Rukfiah merupakan salah satu dari pengrajin tikar kalasa yang mempertahankan kerajinan warisan itu secara turun temurun. “Saya membuat tikar dari usia muda, hingga menikah, pekerjaan ini telah menjadi kebiasaan saya. Alhamdulillah ada yang membeli hasil kerajinan tangan kami walaupun dengan waktu yang tidak menentu,” ucap Rukfiah.

Empat buah tikar kalasa terpampang di pojok teras rumah. “Sambil menunggu pembeli saya pajang tikarnya disitu. Saya juga biasa memberikan ke mama mantu untuk jual ke Maba, Buli, dan Subaim dengan harga Rp100.000,”kata Rukfiah.

Untuk menghasilkan satu tikar kalasa memakan waktu 4 hari hingga seminggu tergantung waktu luang. Tikar kalasa dibuat dari kulit pelepah rumbia atau lebih dikenal dengan sagu. Kulitnya dikuliti setiap sisi 4-5 cm, dijemur hingga kemerahan kemudian dibersihkan dengan pisau.Setelah dikuliti dan dibersihkan, pengrajin menyulam pelepah dengan tali plastik satu persatu. Satu buah tikar kalasa berukuran 2,50 meter menghabiskan 30 batang pelepah rumbiah.

Ibu dua orang anak itu menambahkan, tikar kalasa tidak laris setiap hari seperti dagangan lain. Satu tikar kalasa membutuhkan waktu hingga satu minggu. “Kadang dalam satu minggu itu tidak ada sama sekali, kalau langganan yang biasanya datang ambil tikar kalasa sebulan sekali kadang juga tidak datang,” ucap Rukfiah.

Meski sepi pembeli, Rukfiah rela menghabiskan waktu membuat tikar kalasa untuk menunjang ekonomi keluarga. “Sekarang karena harga kopra turun, suami lebih banyak membuat sagu dan saya bantu suami dengan membuat tikar,” katanya.Terlepas dari persoalan ekonomi pembuaan tikar kalasa, lanjut Rukfiah, bertujuan untuk menjaga warisan kerajinan orang tua ini tetap terjaga. Oleh karena itu, di waku senggang, Rukfiah selalu membuatnya walaupun belum ada pembeli. ”Saya tetap membuat tikar kalasa, agar anak-cucu saya juga dapat membuat tikar yang nanti lebih bagus dari saya buat sekarang,”ungkapnya.Selain di Halmahera Timur, tikar dengan jenis dan bahan yang sama juga biasa dibuat oleh warga di negeri Saruma, Halmahera Selatan (Halsel). Tikar kalasa di Halsel lebih dikenal dengan tikar jojo.

Sementara itu, tokoh pemuda Desa Bicoli Kawi mengatakan, Desa Kasuba dan Desa Bicoli dikelilingi hutan sagu seluas 40 hektar. “Ini cukup potensial. Selain tikar yang bernilai ekonomis, seharusnya ada industri khusus untuk sagu agar supaya, hasil yang kami peroleh tidak mubajir di pasaran,” harap Kawi.

Penulis : Risman Rais

Sumber : Cermat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DUNIA SEKECIL WARUNG
0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher