September 7, 2021 Menikmati Kopi Nyiru di Taman Moya Ternate

Menikmati Kopi Nyiru di Taman Moya Ternate

Kopi Nyiru

Panas Matahari sedikit menyengat kulit. Saat itu pukul 11.30 WIT, tepatnya pada Rabu (3/4). Dengan kendaraan bermotor, saya menuju Taman Moya Mabuku, atau Moya Puncak, Ternate Tengah, Maluku Utara.

Jalan lengang ketika sepeda motor saya mulai naik ke Moya Mabuku, yang berada di 252 meter di atas permukaan laut. Hanya membutuhkan waktu 10 menit dari pusat kota Ternate untuk sampai ke sana. Di tengah tanjakan, angin semilir. Nampak rerimbunan pohon cengkih (Syzygium aromaticum) dan pala (Myristica fragrans). Aroma kayu manis (Cinnomomum verum) masuk ke hidung, beberapa detik perjalanan, saya melihat warga menjemur kayu manis di depan rumah. Di tepi jalan di Moya.Tak ada penjaga karcis masuk saat tiba di Taman Moya Mabuku. Saat itu, pengunjung baru saya sendiri. Sunyi. Bangku nampak berjejer dekat tebing, menghadap ke laut. Panorama kepadatan bangunan di Kota Ternate berlatar langit biru dan Pulau Tidore terlihat dari Taman Moya ini. Tak heran jika banyak pelancong sering ke sini; mengabadikan panorama lewat telepon genggam.

“Kopi nyiru satu. Boleh, Ajus?” tanya saya ke Ramlia Rupa (45 tahun). Kata Ajus adalah istilah orang muda untuk memanggil seorang ibu yang akrab dengan orang muda.

Ngana (kamu) pengunjung pertama hari ini. Oke, ajus bikin. Tunggu, saya cari pondak (pandan),” kata Ramlia. Sambil memanaskan air, Ramlia pun menuju samping rumahnya. Di bawah pohon durian, ada tanaman pandan, sereh, bahkan tebu di situ. Sambil meracik kopi nyiru, Ramlia bercerita, bahan dasar kopi ini dari jahe, pandan, kayu manis, dan tentunya kopi. Pengetahun meracik kopi nyiru ia dapatkan dari mertuanya. “Mama mantu (mertua) yang ajarkan saya racik kopi,” ungkapnya.Orang-orang Ternate memang punya tradisi bikin kopi nyiru. Saat ke kebun bahkan pergi mancing ikan di laut, mereka selalu menyediakan kopi ini. Menurut Ramlia, semakin dingin, kopi nyiru semakin nikmat.

“Makanya banyak yang pesan bawa pulang. Ada yang simpan di kulkas untuk menikmati dengan rasa dingin. Anak-anak saya juga suka minum setelah kopinya dingin,”kata Ibu lima anak itu.

Dahulu, capuran kopi diambil dari biji kopi yang ditanam warga Moya. “Dulu. Sebelum saya menikah, kopi tumbuh di sepanjang jalan situ. Berdekatan dengan pohon juga,” katanya.Namun, kini sudah tidak lagi. Ramlia harus menggunakan kopi bubuk yang dibeli di pasar. Ramlia bilang, citarasa kopi nyiru akan lebih nikmat jika memakai biji kopi asli. “Kalau ada yang jual biji kopi dari sini (Maluku Utara), saya akan beli. Lalu sangrai agar aroma kopinya kuat,” katanya.

Rasno Ahmad, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Kieraha mengatakan, Dulu, para tetua di Moya selalu membuat kopi nyiru. Tak hanya saat beraktivitas ke kebun, namun saat ritual tertentu pun disajikan kopi nyiru.Nyiru adalah rebus dalam bahasa Ternate. Metode buat kopi ini hampir sama dengan di Tidore. Namun memiliki bahasa yang berbeda, di Tidore dikenal dengan kopi dabe.

Salah satu barista di Ternate Rhiscy Fadil Adam (29) mengatakan, dulu, Ternate memang memiliki varietas kopi robusta. Banyak warga Ternate yang menanam kopi jenis ini. Ia menjelaskan, kopi jenis arabica biasa tumbuh jika di atas 700 meter di atas permukaan laut. Sedangkan robusta di bawah 700. Makanya bisa tumbuh di Ternate. Citarasa robusta ini, menurut Rhiscy, bisa sama dengan robusta yang ada di Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Konon, pada zaman VOC, Ratu Juliana dari Belanda lebih suka minum kopi asal Pulau Bacan.

Memang, dalam beberapa literatur sejarah, Bacan pada saat itu punya mata uang sendiri. Hal ini karena pulau tersebut menjadi salah satu pusat perdagangan hingga memikat bangsa Eropa seperti Portugis Hingga Belanda datang karena penghasil rempah-rempah, kakao, lada hitam, karet, hingga kopi.

Batjan Algemene Maastchappij (BAM) maskapai perdagangan hasil kerjasama Kesultanan bacan dengan Belanda. Beberapa contoh mata uang BAM masih tersimpan di Negeri Belanda. Selain robusta, di bacan juga ada jenis arabica. “jadi, di sini, sebenarnya bisa dikembangkan tanaman kopi jenis robusta,” katanya. Rhiscy mengaku pernah coba tanam 5 pohon kopi jenis robusta. Tumbuh. “Namun gara-gara saya biarkan, tidak rawat, karena saya ke Jakarta, tanaman kopi itu mati. Mungkin faktor iklim juga,” Katanya.Data Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi 2015-2017 menyebutkan: Luas Areal dan Produksi Kopi Robusta di Perkebunan Rakyat Maluku Utara pada Tahun 2015, ada 1.922 ha lahan perkebunan dan produksi kopi sebanyak 133 ton per tahun dengan jumlah petani 2.398.

Dalam data tersebut menjelaskan, Kabupaten Kepulauan Sula memproduksi kopi robusta 59 ton pertahun, disusul Halmahera Brat 24 ton pertahun, Halmahera Utara 23 ton pertahun begitu juga Halmahera Selatan 23 ton pertahun. Sedangkan Halmahera Timur 4 ton pertahun.

“Memang data produksi kopi di Maluku Utara ada, namun, hingga sekarang, saya belum menemukan pasarnya. Maknaya saya masih pesan biji kopi asli dari luar,” ungkap Pemilik Kedai Kopi Sampalo ini.

Pesanan Hingga ke Luar Negeri

Ramlia tak menyangka racikan kopi nyiru dari tangannya mendapat penikmat dari luar negeri. Dua bulan kemarin, ia mengirim kopi nyiru ke Jakarta, lalu dikirim lagi ke Amerika.Ramlia memang dikenal pribadi yang cepat akrab dengan pengunjung. Ia berkisah, bahwa yang mengenalkan citarasa kopi nyiru ke turis adalah Ivan, salah satu pelanggan setianya. “Hah, dia (Ivan) ini yang mengajak 7 orang turis mengunjungi Taman Moya. Ada orang Brazil, Amerika, dan lainnya. Mereka minum kopi ini,” kata Ramlia.

Sekira tahun tahun 2017, Ivan yang balik ke Jakarta menenepon Ramlia. Memberitahukan bawah tamu yang ia bawa kemarin ingin dikirimkan kopi nyiru. “Saa itu, dalam sebulan saya kirim kopi lima jerigen ke Jakarta. Baru Ivan kirim ke Amerika,” Katanya. Tak hanya kopi, Ramlia juga mengirimkan dodol durian juga sambal roa berbahan ikan kering.

Gotongroyong Membangun Taman Moya

Wisata Taman Moya Mabuku hadir atas inisiasi masyrakat sekitar sejak 2016. Sekira ada 18 Pendopo milik delapan orang, dibuat untuk pengunjung. Ramlia sendiri membangun pendopo di atas tanahnya sendiri. Sementara yang lain, menyewa lahan.“Saya bangun ada sekitar tiga pendopo untuk bersantai, dan satu musolah,”jelas Ramlia. Ramlia juga mengkordinir anak-anak muda untuk buat karcis masuk area wisata. Kendaran roda dua dikenakan Rp2000 dan Mobil Rp5000.

Dari pendapatan parkir itu, anak-anak yang menjaga pintu masuk mengambil keuntungan 40 persen, dan sisanya 60 persen masuk uang kas.

“Uang kas itu digunakan untuk misalnya beli lampu hias, mengganti karpet yang rusak di pendopo. Itu berlaku untuk semua pengelola di sini,”ujarnya.Ramlia berharap, Walikota Ternate juga bisa terlibat dalam membangun wisata Taman Moya. “Sebab, di sini, kalau rapat, semua hadir. Dari perangkat kelurahan, babinsa, RT, RW, dan pemuda pemudi. Jika Walikota ada juga lebih bagus,”tambahnya.Para pengunjung tak hanya datang pada siang hari. Di Malam hari, pengunjung bahkan berdatangan, sembari mengabadikan kerlap-kerlip Kota Ternate dari Puncak Moya itu.Dalam semalam, jika banyak pengujung, Ramlia bisa meraup satu juta rupiah. Pada misim duren, Taman Moya akan dibanjiri pengujung setiap harinya, sebab, di lokasi tersebut banyak pohon duren milik warga sekitar.

Sumber : Kumparan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher
      Minta Gambar-gambar Produk Khusus Dengan Harga Grosir Untuk Jadi Reseller? Orderan Bisa Dikirim Dengan Nama Tokomu ke Pelangganmu.
      This is default text for notification bar