Januari 20, 2021 mengenal Kerajinan tikar pandan halmahera

mengenal Kerajinan tikar pandan halmahera

Nenek Melniah

Sebuah rumah sederhana di Dusun 1 Desa Minamin, Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, menjadi tempat Melniah Doongor (60) menjalani kesibukannya setiap hari.

Jumat (18/9) pagi itu, pukul 9.00 WIT, saya menyaksikan langsung cara pembuatan tikar tradisional atau tikar pandan dari perempuan paruh baya tersebut.

Pekerjaan ini mulai ia tekuni sejak tahun 1980. Kala itu, dirinya masih berusia 20 tahun.

“Saya so (sudah) belajar menganyam tikar semenjak umur 20 tahun, sampai sekarang kira-kira sudah genap 40 tahun” ujar wanita usia 60 tahun itu.

Tikar tradisonal atau kerap disebut tikar pandan ini memang terkenal sejak lama di Maluku Utara.

Selain sebagai perabot rumah tangga, tikar ini juga dipersembahkan untuk acara adat dan acara pernikahan.

Di Desa Minamin, kata Melniah, sejak dulu tradisi mengannnyam tikar sudah berlangsung lama.

Meski begitu, tikar berbahan dasar daum pandan itu menjadi tikar tradisonal yang saat ini keberadaannya mulai langkah. Hal ini dikarenakan jumlah pengrajin tikar kian berkurang.

Selain motifnya yang unik, cara pembuatannya pun cukup memakan waktu yang lama. Melniah bahkan harus menghasilkan satu buah tikar dalam jangka waktu sebulan.

“Saya biasanya bikin 7 buah tikar dalam satu tahun. Satu bulan kalau saya fokus bisa dapat 1 sampai 2 tikar” bilang Melniah.

Di belantara hutan Halmahera, Maluku Utara, jenis daun pandan duri memang sangat mudah didapati. Daun ini tumbuh secara liar di hutan-hutan terutama di sekitar aliran air.

Panjang daunnya bisa mencapai dua meter, teksturnya agak tebal dan keras dibanding pandan wangi. Ukurannya lebih besar dan memiliki duri-duri tajam di sisi-sisi daunnya.

“Kalau dulu, harga tikar tradisonal murah, dan gampang didapat. Sekarang susah karena pengrajinnya suda langkah. Jadi harganya juga naik” ujar wanita yang akrab disapa Nenek Melniah itu.

Di Desa Minamin sendiri, satu buah tikar pandan biasanya dijual dengan harga Rp.500 ribu.

Nenek Melniah bilang, hanya tersisa 7 orang pengrajin di Desa Minamin yang masih melanjutkan pembuatan tikar hingga kini.

Ia juga menyayangkan kerajinan tangan tersebut kini kurang diminati dan tidak dikembangkan oleh generasi muda.

“Di Minamin sini hanya tinggal saya dan 6 orang teman-teman saya yang sering menganyam tikar. Anak muda sekarang sudah tidak bisa lagi buat tikar ini” katanya.

Tak hanya itu, minimnya penggunaan tikar tradisional sebaga perabot rumah tangga membuat dirinya harus menghadapi jumlah pesanan yang menurun.

Hal ini dikarenakan adanya produk tikar buatan berbahan dasar plastik yang harus bersaing di pasaran.

“Sekarang tikar tradisonal hanya diperlukan pada acara-acara adat saja, kebanyakan orang menggunakan tikar berbahan dasar plastik” ujarnya.

Sebagai pengrajin tikar tradisional yang sudah cukup lama, Nenek Melniah mengaku tetap hidup berkecukupan dari penghasilan yang ia dapatkan.

Sumber : https://lpmmantra.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0
    0
    PESANAN SAYA
    Troli KosongMau Belanja
      Masukkan Voucher